Sebelum kita membahas jenis-jenis Tanaman Hidroponik, Baiknya kita tahu asal usul sejarah Lahirnya Sistem Penanaman Secara Hidroponik, Keuntungan dan kelemahan bercocok Tanam dengan Hidroponik serta penjelasan mengenai cara bercocok tanam dengan cara Hidroponik, oke...langsungsung saja..!!!
Sejarah bertanam secara hidroponik sebenarnya telah dimulai ribuan
tahun yang lalu. Diceritakan, ada taman gantung di Babilon dan taman
terapung di Cina yang bisa disebut sebagai contoh Hidroponik. Lebih
lanjut diceritakanpula, di Mesir, India dan Cina, manusia purba sudah
kerap menggunakan larutan pupuk organik untuk memupuk semangka, mentimun
dan sayuran lainnya dalam bedengan pasir di tepi sungai. Cara bertanam
seperti ini kemudian disebut river bed cuultivation.
Banyak keuntungan dan keunggulan yang bisa diperoleh dengan menanam
secara hidroponik, meskipun juga ada sedikit kerugian atau kelemahannya.
Beberapa keunggulan budidaya sistem
hidroponik antara lain adalah:
- Menghemat Lahan. Kepadatan tanaman per satuan luas dapat dilipatgandakan sehingga menghemat penggunaan lahan
- Jaminan Kualitas Produk. Mutu produk (bentuk, ukuran, rasa, warna, kebersihan/higiene) dapat dijamin karena kebutuhan nutrient tanaman dipasok secara terkendali di dalam rumah kaca.
- Kontinuitas supply / Produksi Kontinyu. Penanaman tanaman sayuran secara hidroponik tidak tergantung musim/waktu tanam dan panen dapat diatur sesuai dengan kebutuhan pasar.
Ada 6 (enam) tipe dasar dari sistim
hidroponik yaitu:
- Wick system,
- Water Culture System,
- Ebb dan Flow system,
- Drip System,
- NFT (Nutrien Film Technique)
- Aeroponik.
Pada
sistim yang recovery, penggunaan pupuk dan air lebih efisien karena
larutan yang mengalir keluar wadah akan digunakan kembali sementara pada
sistem yang non-recovery tidak demikian. Jenis hidroponik dapat
dibedakan dari media yang digunakan untuk tempat berdiri tegaknya
tanaman. Media tersebut biasanya bebas dari unsur hara (steril),
sementara itu pasokan unsur hara yang dibutuhkan tanaman dialirkan ke
dalam media tersebut melalui pipa atau disiramkan secara manual. Media
tanam tersebut dapat berupa kerikil, pasir, gabus, arang, zeolit, atau
tanpa media agregat (hanya air).
Drip irigation ( irigasi tetes) dewasa
ini sangat banyak digunakan karena dianggap lebih efektif dalam
menghemat air dan pupuk. Dalam sistem ini air diberikan tetes demi tetes
sesuai dengan kebutuhan tanaman sehingga kecil sekali air yang
terbuang. Walaupun peralatan untuk sistim ini agak rumit dan mahal,
tetapi hasil yang diperoleh dan manfaatnya jauh lebih besar serta dapat
dipakai berulang kali.
Kelemahan sistem penanaman secara hidroponik adalah membutuhkan
biaya awal yang cukup besar juga pemeliharaan yang lebih intens dalam
pengontrolan ketersediaan air bagi tanaman, karena jika sampai
kekurangan air maka tanaman akan cepat sekali layu dan bisa mati.
Ketika ahli patologis tanaman menggunakan nutrien khusus untuk media
tanam muncullah istilah nutri culture. Setelah itu, bermunculan istilah
water culture, solution culture dan gravel bed culture untuk menyebutkan
hasil percobaan mereka yang menanam sesuatu tanpa menggunakan tanah
sebagai medianya. Terakhir pada tahun 1936 istilah hidroponik lahir,
istilah ini diberikan untuk hasil dari Dr. WF. Gericke, seorang
agronomis dari Universitas California, USA, berupa tanaman tomat
setinggi 3 meter yang penuh buah dan ditanam dalam bak berisi mineral
hasil uji cobanya.
Sejak itu, hidroponik yang berarti hydros adalah air dan ponics untuk menyebut pengerjaan atau bercocok tanam, dinobatkan untuk menyebut segala aktivitas bercocok tanam tanpa menggunakan tanah sebagai tempat tumbuhnya. Gericke ini menjadi sensasi saat itu, foto dan riwayat kerjanya menjadi headline surat kabar, bahkan ia sempat dinobatkan menjadi orang berjasa abad 20.
Sejak itu, hidroponik yang berarti hydros adalah air dan ponics untuk menyebut pengerjaan atau bercocok tanam, dinobatkan untuk menyebut segala aktivitas bercocok tanam tanpa menggunakan tanah sebagai tempat tumbuhnya. Gericke ini menjadi sensasi saat itu, foto dan riwayat kerjanya menjadi headline surat kabar, bahkan ia sempat dinobatkan menjadi orang berjasa abad 20.
Saat ini hidroponik tidak lagi sebatas skala laboratorium, tetapi dengan
teknik yang sederhana dapat diterapkan oleh siapa saja termasuk ibu
rumah tangga. Jepang yang kalah dari sekutu dan tanahnya tandus akibat
bom atom, pada tahun 1950 secara gencar menerapkan hidroponik. Kemudian
negara lain seperti irak, Bahrain dan negara-negara penghasil minyak
yang tanahnya berupa gurun pasir dan tandus pun ikut menerapkan
hidroponik.
No comments:
Post a Comment